PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam (IPI) semester IV jurusan PAI
Dosen: Mulyawan SN, M. Ag, M. Pd
Disusun oleh:
Eneng Santi Yuliani
NIM. 2008. 1027
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SUKABUMI
Jl. Veteran I No. 36 Telp. (0266) 22 45 65
Sukabumi
Tahun Ajaran 2009/2010
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah.
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas perkenan-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peran Pendidikan Islam dalam Pembentukan Kepribadian Anak di Lingkungan Keluarga” dengan tidak melewati hambatan yang berarti.
Shalawat serta salam semoga terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan seluruh umatnya.
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam semester IV jurusan Pendidikan Agama Islam.
Terima kasih kami ucapkan kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, khususnya kepada dosen pembimbing, Bpk. Mulyawan S. Nugraha, M. Ag, M. Pd atas segala arahan dan bimbingannya.
Kami sadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami berharap adanya saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini untuk ke depannya. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Amin.
Sukabumi, Juni 2010
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………... a
DAFTAR ISI …………………………………………………………. a
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah …………………………………….. a
Rumusan Masalah …………………………………………… a
Tujuan Penulisan …………………………………………….. a
Sistematika Penulisan ……………………………………….. a
BAB II PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA
Pengertian Pendidikan ………………………………………. a
Pengertian Islam …………………………………………...… a
Pengertian Pendidikan Islam ………………………………… a
Pentingnya Pendidikan Islam ………………………………... a
Pendidikan Islam Bagi Anak ………………………………... a
Pengertian Kepribadian ……………………………………… a
Peran Pendidikan Islam dalam Pembentukan Kepribadian Anak di Lingkungan Keluarga ………………………………. a
BAB III PENUTUP
Simpulan …………………………………………………….. a
Saran ………………………………………………………… a
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ a
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sudah menjadi fitrah manusia, bahwa setiap orang yang sudah berkeluarga ingin mendapatkan karunia seorang anak. Dalam kehidupan rumah tangga anak bagaikan bunga di dalam taman. Suatu taman tanpa bunga yang berkembang tidak indah semarak. Anak dan keturunan yang baik akan menyemarakkan kehidupan rumah tangga, yang dapat menimbulkan rasa bahagia.
Setiap orang yang beriman akan mendambakan agar anaknya menjadi anak yang shaleh yang akan meneruskan keturunannya, yaitu anak yang baik yang taat beribadah kepada Allah SWT dan berbakti kepada ibu bapaknya serta bermanfaat untuk agama, masyarakat, dan bangsanya. Namun pada kenyataannya tidak semua anak bisa menjadi shaleh karena berbagai sebab, seperti faktor pendidikan dan lingkungan yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan watak dan kepribadian seseorang.
Pada hakikatnya pendidikan anak menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tuanya masing-masing, karena anak adalah amanah (titipan) Allah SWT yang harus dididik dan diperlakukan sesuai dengan petunjuk agama Allah yang hak.
Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Oleh karena itu, tidak heran jika kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab, serta berkepribadian mulia.
Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan, terutama pendidikan Islam. Pendidikan Islam dapat membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas, fisik yang kuat, serta dapat menumbuhkan keimanan pada diri anak sejak dini.
Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan pendidikan?
Apa yang dimaksud dengan Islam?
Apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam?
Bagaimana pentingnya pendidikan Islam bagi setiap manusia (muslim)?
Bagaimana mengenai pendidikan Islam bagi anak?
Apa yang dimaksud dengan kepribadian?
Bagaimana peran pendidikan Islam dalam pembentukan kepribadian anak di lingkungan keluarga?
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami definisi pendidikan.
Untuk mengetahui dan memahami definisi Islam.
Untuk mengetahui dan memahami definisi Pendidikan Islam.
Untuk mengetahui dan memahami pentingnya pendidikan Islam bagi setiap manusia (muslim).
Untuk mengetahui dan memahami mengenai Pendidikan Islam bagi anak.
Untuk mengetahui dan memahami definisi kepribadian.
Untuk mengetahui dan memahami peran Pendidikan Islam dalam pembentukan kepribadian anak di lingkungan keluarga.
Sistematika Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini diperlukan sistematika sebagai berikut:
Langkah awal
Teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan buku-buku yang diperlukan.
Langkah inti
Membuat rangkaian penyusunan makalah, yaitu dengan langkah sebagai berikut:
PENDAHULUAN
Latar Belakang Penulisan
Rumusan Penulisan
Tujuan Penulisan
Sistematika Penulisan
PEMBAHASAN
PENUTUP
Simpulan
Saran
BAB II
PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA
Pengertian Pendidikan
Tinjauan Etimologi
Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogie, dengan kata dasarnya adalah didik yang diawali dengan imbuhan pe- dan akhiran –an, yang artinya pergaulan dengan anak-anak. Dalam bahasa Inggris pendidikan dikenal dengan istilah education yang artinya mengubah pola pikir dari yang kurang dewasa menjadi dewasa. Sedangkan dalam bahasa Arab pendidikan dikenal dengan istilah ta’lim, ta’dib, tarbiyah, dan al-riadhah.
Tinjauan Terminologi
Menurut istilah pendidikan mempunyai beberapa arti, yaitu:
Pendidikan adalah komunikasi terorganisasi dan berkelanjutan yang disusun untuk menumbuhkan kegiatan belajar.
Pendidikan adalah proses ke arah pendewasaan yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didiknya.
Pendidikan merupakan transformasi ilmu dan pembentukan nilai.
Sedangkan pengertian pendidikan menurut pandangan beberapa ahli, yaitu:
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Ahmad D. Marimba mengajukan definisi pendidikan sebagai berikut: “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.” (Hery Noer Ali, 1999: 2)
M. J. Lavengeld, “Pendidikan atau paedagogi adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju pada kedewasaan dan kemandirian.” (Hery Noer Aly, 1999: 3)
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah transformasi ilmu dan pembentukan nilai dengan komunikasi yang terorganisasi dan berkelanjutan antara pendidik dan peserta didik dengan menumbuhkan kegiatan belajar sebuah proses menuju kedewasaan.
Pengertian Islam
Tinjauan Etimologi
Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Dari segi kebahasaan ini Islam mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Tinjauan Terminologi
Pengertian Islam menurut beberapa ahli:
Harun Nasution
Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
Maulana Muhammad Ali
Islam adalah agama perdamaian dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.
Dapat disimpulkan bahwa Islam menurut istilah adalah mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah SWT bukan berasal dari manusia, dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW.
Pengertian Pendidikan Islam
Beberapa pengertian pendidikan Islam menurut para ahli, diantaranya:
Drs. Ahmad D. Marimba
Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Abdurrahman Nahlawi
Pendidikan Islam ialah pengaturan pribadi dan masyarakat yang karenanya dapatlah memeluk Islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.
Hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung, Bogor menyatakan “Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.” (Nur Uhbiyati, 2005: 11)
Dari uraian pengertian pendidikan Islam di atas, terlihat perbedaan pendapat dari para ahli mengenai rumusan pendidikan Islam. Pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan tidak memisahkan antara iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Pendidikan Islam merupakan pendidikan iman dan amal yang mengajarkan tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Pentingnya Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Oleh karena itu, tidak heran jika kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan. Pendidikan Islam memiliki 3 tahapan kegiatan, yaitu:
Tilawah (membacakan ayat Allah).
Tazkiyah (mensucikan jiwa).
Ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan kitab dan hikmah).
Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas, fisik yang kuat serta banyak beramal, dan dapat menumbuhkan keimanan pada diri anak sejak dini. Keimanan sangat diperlukan oleh anak-anak kita untuk menjadi landasan bagi akhlak mulia. Keimanan diperlukan agar akhlak anak-anak kita tidak merosot dan agar mampu hidup tentram serta konstruktif pada zaman global nanti.
Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran), dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahapan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q. S. Ali Imran (3): 103)
Jadi, jelaslah bahwa pendidikan Islam itu sangat penting bagi setiap manusia terutama bagi anak-anak. Karena dengan memberikan pendidikan Islam pada anak sejak dini berarti kita ikut berusaha menyelamatkan generasi muda menghadapi era global nanti.
Pendidikan Agama (Islam) Bagi Anak
Islam sangat menekankan, betapa pentingnya pendidikan agama (Islam) bagi anak, dan ini merupakan faktor yang paling menentukan.
Salah satu unsur yang mendasar ialah memberikan pendidikan agama (Islam) kepada anak, yang harus dilakukan sedini mungkin, sewaktu anak itu masih kecil. Pendidikan agama Islam harus mampu memberikan landasan yang kuat bagi anak untuk mengarungi samudra kehidupan yang luas di masa depannya.
Ada ahli ilmu jiwa dan pendidikan yang berpendapat bahwa pada umumnya pribadi anak mulai terbentuk sejak kecil, yaitu sekitar umur 2 tahun. Maka sebaiknya setiap orang tua membiasakan anaknya dengan pendidikan agama (Islam), sepeti membiasakan anaknya mengucapkan kalimat-kalimat thayibah, dan hendaknya membiasakan diri dengan tata cara hidup menurut ajaran Islam, seperti menanamkan kebiasaan mengucapkan salam kepada anak-anaknya apabila bertemu dengan teman-temannya.
Banyak orang tua yang keliru di dalam mendidik dan membekali ilmu kepada anak-anaknya. Banyak orang tua pada zaman modern ini, di mana manusia berlomba-lomba meningkatkan pengetahuan dan teknologi, lebih mengutamakan anak-anaknya dimasukkan ke sekolah umum, sedangkan untuk menuntut ilmu agama Islam kurang mendapat perhatian.
Anak harus mendapatkan pendidikan agama (Islam) agar berbudi pekerti luhur dan berkepribadian yang mulia, berbakti kepada kedua orangtuanya dan menaati ajaran agama. Oleh karena itu, orang tua wajib memberikan pendidikan agama Islam kepada anaknya, karena pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting terhadap pembentukan kepribadian seorang anak dalam lingkungan keluarganya. Dengan adanya pendidikan Islam tersebut, anak dapat membiasakan diri beramal shaleh dan berbakti kepada kedua orang tua, agama, dan negara.
Menurut ajaran Islam, orang tua adalah pemimpin dan pendidik pertama bagi anak-anaknya, sehingga orang tua berkewajiban memelihara diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q. S. At-Tahrim: 6)
Pengertian Kepribadian
Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Kata kepribadian sebenarnya berasal dari personality (bahasa Inggris) yang berasal dari kata persona (bahasa Latin) yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Sedangkan menurut pengertian sehari-hari, kepribadian menunjuk bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pengertian seperti ini mudah dimengerti dan dipergunakan, tetapi sayangnya bersifat lemah, karena tidak bisa menerangkan arti kepribadian yang sesungguhnya.
Kepribadian menurut psikologi
Pengertian kepribadian menurut disiplin ilmu psikologi bisa diambil dari rumusan beberapa teoris kepribadian yang terkemuka, diantaranya:
George Kelly (Koswara, E, 1991: 11) memandang kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.
G. W. Allport (Sujanto, Agus, dkk, 2001: 11) berpendapat bahwa kepribadian adalah suatu organisasi psichophysis yang dinamis daripada seseorang yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
May (Sujanto, Agus, dkk, 2001: 11) berpendapat bahwa kepribadian merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi, bagaimana cara orang lain itu bereaksi terhadap kita, itulah kepribadian kita.
Dari keterangan di atas, maka kepribadian dapat dirumuskan sebagai berikut: Kepribadian adalah suatu totalitas psichophysis yang komplek dari individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik.
Peran Pendidikan Islam dalam Pembentukan Kepribadian Anak di Lingkungan Keluarga
Dalam kehidupan manusia, tingkah laku atau kepribadian merupakan hal yang sangat penting sekali, sebab aspek ini akan menentukan sikap identitas diri seseorang. Baik dan buruknya seseorang itu akan terlihat dari tingkah laku atau kepribadian yang dimilikinya. Oleh karena itu, perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian ini sangat tergantung kepada baik atau tidaknya proses pendidikan yang ditempuh.
Proses pembentukan tingkah laku atau kepribadian ini hendaklah dimulai dari masa kanak-kanak, yang dimulai dari selesainya masa menyusui hingga anak berumur 6 atau 7 tahun. Masa ini termasuk masa yang sangat sensitif bagi perkembangan kemampuan berbahasa, cara berpikir, dan sosialisasi anak. Di dalamnya terjadilah proses pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan moral dan mentalnya. Pada saat ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan anak dan mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di masyarakatnya kelak. Konsep pendidikan yang tepat untuk diterapkan pada masa ini adalah sebagai berikut:
Di dalam lingkungan keluarga, orang tua berkewajiban untuk menjaga, mendidik, memelihara, serta membimbing dan mengarahkan dengan sungguh-sungguh dari tingkah laku atau kepribadian anak sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan atas tuntunan atau aturan yang telah ditentukan di dalam Al-Quran dan hadits. Tugas ini merupakan tanggung jawab masing-masing orang tua terhadap anak-anaknya didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi. (H. R. Bukhari)
Hal tersebut juga didukung oleh teori psikologi perkembangan yang berpendapat bahwa masing-masing anak dilahirkan dalam keadaan seperti keras putih. Teori ini dikenal dengan teori “tabula rasa”, yang mana teori ini berpendapat bahwa setiap aank dilahirkan dalam keadaan bersih; ia akan menerima pengaruh dari luar lewat indera yang dimilikinya. Pengaruh yang dimaksudkan tersebut berhubungan dengan proses perkembangan intelektual, perhatian, konsentrasi, kewaspadaan, pertumbuhan aspek kognitif, dan juga perkembangan sosial. Akan tetapi, perkembangan aspek-aspek tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan sang anak tersebut. Jadi, karena pengaruh lingkungan atau faktor luar sangat berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek psikologis sang anak, maka peran pendidikan sangatlah penting dalam proses pembentukan dari tingkah laku atau kepribadiannya tersebut.
Dalam hal ini, pendidikan keluarga merupakan salah satu aspek penting, karena awal pembentukan dan perkembangan dari tingkah laku atau kepribadian atau jiwa seorang anak adalah melalui proses pendidikan di lingkungan keluarga. Di lingkungan inilah pertama kalinya terbentuknya pola dari tingkah laku atau kepribadian seorang anak tersebut. Pentingnya peran keluarga dalam proses pendidikan anak dicantumkan di dalam Al-Quran, yang mana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 74:
“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q. S. Al-Furqan: 74)
Jadi, di dalam proses pendidikan di dalam lingkungan keluarga, masing-masing orang tua memiliki peran yang sangat besar dan penting. Dalam hal ini, ada banyak aspek pendidikan sangat perlu diterapkan oleh masing-masing orang tua dalam hal membentuk tingkah laku atau kepribadian anaknya yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW. Diantara aspek-aspek tersebut adalah pendidikan yang berhubungan dengan penanaman atau pembentukan dasar keimanan (akidah), pelaksanaan ibadah, akhlak, dan sebagainya.
Pendidikan Islam terhadap anak dalam lingkungan keluarga sangat penting, apalagi pada kehidupan anak (usia 6 tahun pertama) karena periode ini merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Adapun yang terekam dalam benak anak pada periode ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa.
Salah satu dasar pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak adalah sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi. (H. R. Bukhari). Berdasarkan hadits ini, jelas sekali bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang belum terkena noda. Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apa pun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Ia akan berkembang sesuai dengan pendidikan yang diperoleh dari kedua orang tuanya dan juga lingkungan di sekitarnya.
Namun, sejalan dengan bertambahnya usia anak, kadang-kadang muncul persoalan baru. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah anis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul baik dengan lingkungan masyarakat di sekelilingnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya kadang-kadang semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkannya. Maka dalam hal ini, peranan orang tua sangat berpengaruh penting. Jadi, pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak ini disebabkan oleh karena pendidikan yang diperoleh anak dari pengalaman sehari-hari dengan sadar pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pendidikan adalah transformasi ilmu dan pembentukan nilai dengan komunikasi yang terorganisasi dan berkelanjutan antara pendidik dan peserta didik dengan menumbuhkan kegiatan belajar sebuah proses menuju pendewasaan.
Islam merupakan agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah SWT, bukan berasal dari manusia, dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW.
Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Pendidikan Islam sangat penting bagi setiap manusia (muslim), terutama bagi anak-anak, karena dengan memberikan pendidikan Islam pada anak sejak dini berarti telah ikut berusaha menyelamatkan generasi muda dalam menghadapi era global nanti.
Menurut ajaran Islam orang tua adalah pemimpin dan pendidik yang pertama bagi anak-anaknya, sehingga orang tua berkewajiban memberikan pendidikan Islam bagi anak-anaknya sejak dini agar anaknya berbudi pekerti luhur dan berkepribadian mulia.
Kepribadian adalah suatu totalitas psichophysis yang komplek dari individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik.
Pendidikan Islam sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak dalam lingkungan keluarga, karena kepribadian/tingkah laku merupakan hal yang sangat penting dan akan menentukan sikap identitas seseorang.
B. Saran
Anak merupakan rahmat dan amanah dari Allah SWT kepada manusia yang harus diterima dan dipelihara dengan baik, agar kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang shaleh dan berkepribadian mulia sebagaimana yang diharapkan orang tuanya dan dapat meneruskan keturunannya. Hal ini akan dapat tercapai apabila orang tuanya mampu mendidik dan membimbingnya pada jalan Allah, sehingga anaknya menjadi anak yang shaleh.
Namun, sebaliknya jika orang tuanya tidak mampu mendidik/memberikan pendidikan Islam pada anaknya, maka akan menimbulkan berbagai persoalan dan keresahan. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu diberikan kepada anak dalam lingkungan keluarga sejak dini, karena pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak di lingkungan keluarga, apakah anak itu kelak menjadi anak yang shaleh atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Hery, Noer. 1999. Ilmu Pendidikan Islam (cet I). Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Koswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian (cet II). Bandung: PT. Eresco.
Lapadi, Saleh. 2007. Peran Lingkungan dalam Membentuk Kepribadian Anak. Tersedia: http://salehlapadi.wordpress.com/2007/02/25/peran_lingkungan_dalam membentuk_kepribadian_anak/html
Sujanto, Agus, dkk. 2001. Psikologi Kepribadian (cet IX). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Syar’I, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Syureich, HM. 1990. Mendambakan Anak Saleh (cet I). Jakarta: Offset Sistimatis.
Tafsir, Ahmad. 2002. Pendidikan Agama dalam Keluarga. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Uhbiyati, Nur dan Maman Abd. Djaliel (ed). 2005. Ilmu Pendidikan Islam (cet III). Bandung.: Pustaka Setia.
http://www.integral.sch.id
Sabtu, 26 Juni 2010
PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA
Diposting oleh Eneng SY di 05.59 0 komentar
Selasa, 12 Januari 2010
PANDANGAN MASYARAKAT KAMPUNG CIJAMBE DESA SUKARESMI CISAAT-SUKABUMI TERHADAP MADRASAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Esensi pendidikan adalah sebagai investasi masa depan bagi manusia yang pernah atau sedang bergelut di dunia pendidikan ataupun yang sedang menjalani pendidikan tersebut. Namun, terkadang manusia banyak sekali yang lupa akan pentingnya pendidikan tersebut.
Dilihat dari arti pentingnya pendidikan, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengerti dan memahami akan pentingnya pendidikan agar kita bisa mengenyam pendidikan tersebut. Namun pada kenyataannya, masih banyak orang yang tidak mengenyam pendidikan akibat dari beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah: masalah ekonomi, masalah tidak adanya fasilitas pendidikan di tempat mereka, dan masih banyak lagi permasalahan yang perlu secepatnya ditanggulangi oleh pemerintah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Pendidikan terbagi ke dalam beberapa bagian, diantaranya ada pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang dilakukan secara resmi artinya berada di bawah naungan Departemen Pendidikan atau Departemen Agama. Misalnya: SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan lain-lain.
Sedangkan pendidikan nonformal adalah pendidikan yang dilakukan secara tidak resmi, namun masih bersifat memberikan sebuah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Pendidikan nonformal ini biasanya disebut dengan istilah kursus. Misalnya: kursus menjahit, kursus bahasa, kursus menyetir, dan lain-lain yang berupa semacam pelatihan.
Telah disebutkan di atas bahwa pendidikan formal itu ada yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan atau Departemen Agama. Salah satu pendidikan formal yang bergerak di bidang pendidikan Islam dan di bawah naungan Departemen Agama adalah madrasah (Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, ataupun Madrasah Diniyah). Namun, kebanyakan pandangan masyarakat terhadap keberadaan madrasah ini masih kurang mendukung disebabkan adanya beberapa pandangan atau persepsi mereka tentang madrasah itu sendiri. Walaupun demikian, keberadaan madrasah tidak bisa diremehkan karena madrasah memiliki banyak peran untuk merubah masa depan anak didik menjadi lebih baik dan hal ini sudah terbukti dengan banyaknya pejabat dan orang-orang yang sukses, mereka berasal dari madrasah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan dan uraikan bagaimana keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam!
2. Jelaskan dan uraikan bagaimana posisi madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional!
3. Jelaskan dan uraikan bagaimana pandangan masyarakat Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabumi terhadap madrasah!
4. Jelaskan bagaimana upaya untuk memperbaiki citra madrasah dalam masyarakat!
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui bagaimana keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam.
2. Untuk mengetahui bagaimana posisi madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional.
3. Untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabumi terhadap madrasah.
4. Untuk mengetahui bagaimana upaya untuk memperbaiki citra madrasah dalam masyarakat.
BAB II
PANDANGAN MASYARAKAT KAMPUNG CIJAMBE DESA SUKARESMI CISAAT-SUKABUMI TERHADAP MADRASAH
A. MADRASAH SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
1. Pengertian Madrasah
Kata “madrasah” berasal dari bahasa Arab sebagai keterangan tempat (zharaf makan) dari akar kata “darasa”. Secara harfiah madrasah diartikan sebagai “tempat belajar para pelajar”, atau “tempat untuk memberikan pelajaran”. Kata madrasah juga ditemukan dalam bahasa Hebreus atau Aramy, dari akar kata yang sama yaitu “darasa”, yang berarti “membaca dan belajar” atau “tempat duduk untuk belajar”. Dari kedua bahasa tersebut, kata madrasah mempunyai arti yang sama yaitu “tempat belajar”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata madrasah memiliki arti “sekolah”.
Secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni “sekolah agama”, tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (agama Islam).
Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, juga mengajarkan ilmu-ilmu yang ada di sekolah umum, seperti di Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Selain itu, ada pula madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama seperti Madrasah Diniyah.
Para ahli sejarah pendidikan seperti A. L. Tibawi dan Mehdi Nakosteen, mengatakan bahwa madrasah (bahasa Arab) merujuk pada lembaga pendidikan tinggi yang luas di dunia Islam klasik (pramodern). Artinya, secara istilah di masa klasik Islam tidak sama terminologinya dengan madrasah dalam pengertian bahasa Indonesia. Nakosteen menerjemahkan madrasah dengan kata university (universitas) dan menjelaskan bahwa madrasah-madrasah di masa klasik Islam itu didirikan oleh para penguasa Islam dengan tujuan untuk membebaskan masjid dari beban-beban pendidikan sekuler-sektarian. Sebab sebelum ada madrasah, ketika itu masjid memang sudah digunakan sebagai lembaga pendidikan umum. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktivitas sehingga menimbulkan hiruk pikuk, sementara beribadah di dalam masjid menghendaki ketenangan dan kekhusyuan beribadah. Menurut Nakosteen, itulah yang menjadi pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujuan agama di dalam masjid hampir-hampir tidak dapat diperoleh titik temu. Oleh karena itu, dicarilah lembaga pendidikan alternatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum, dengan tetap berpijak pada motif keagamaan. Lembaga itu adalah madrasah.
Madrasah pada awal perkembangannya mempunyai beberapa pengertian diantaranya: berarti aliran atau mazhab, kelompok atau golongan filosof, dan ahli pikir atau penyelidik tertentu yang berpegang pada metode atau pemikiran yang sama. Pandangan-pandangan atau aliran-aliran itu sendiri timbul sebagai akibat perkembangan ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam, sehingga mereka berusaha untuk mengembangkan mazhab masing-masing, khususnya pada periode Islam klasik. Maka, terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pemikiran, mazhab, atau aliran tersebut, misalnya Madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, dan Hambaliyah. Hal ini juga berlaku bagi madrasah-madrasah di Indonesia yang kebanyakan menggunakan nama orang yang mendirikannya. Sedangkan yang merupakan cikal bakal model madrasah di Indonesia adalah Madrasah Nizhamiyah.
2. Latar Belakang Munculnya Madrasah
Secara historis, kelahiran madrasah di Indonesia bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, aspek internal diantaranya meliputi faktor ajaran Islam dan kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Kedua, aspek eksternal diantaranya yang menyangkut kondisi pendidikan modern kolonial di Indonesia. Secara sosial kultural masyarakat Islam di Indonesia dan variasi keagamaan mempunyai perbedaan dengan masyarakat dan tradisi keagamaan di negara-negara Islam lainnya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu mengenal dan terbentuk oleh budaya non-Islam, yakni Hindu dan Budha, animisme dan dinamisme. Islam masuk ke Indonesia tidak dalam keadaan kekosongan budaya, tetapi justru sudah terbentuk oleh budaya-budaya sebelumnya sehingga ajaran Islam di Indonesia terbentuk bukan hanya dari ajaran Islam murni, tetapi lebih terkombinasikan denagn budaya lokal yang sudah terbentuk sebelumnya. Hal itu sering disebut dengan Islam Sinkretis, yang kemudian banyak berkembang dan diterima oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Islam Sinkretis inilah yang kemudian berinteraksi dengan budaya-budaya lain, termasuk budaya Barat. Madrasah adalah salah satu hasil dari bentuk perpaduan antara budaya Islam yang mempunyai akar budaya Nusantara dan budaya Barat.
Menurut Abuddin Nata, kemunculan madrasah setidaknya didasari oleh lima hal, yaitu: modernisasi lembaga (khususnya masjid), perkembangan ilmu pengetahuan yang memunculkan universitas, pemasyarakatan mazhab, perubahan politik pemerintahan, dan perubahan orientasi pendidikan sebagai sebuah profesi. Sejauh ini tampaknya belum ada data yang pasti kapan istilah madrasah yang mempunyai pengertian sebagai lembaga pendidikan, mulai digunakan di Indonesia. Para peneliti sejarah pendidikan Islam pun pada umumnya lebih tertarik membicarakan sistem pendidikan atau pengajaran tradisional Islam yang digunakan di masjid, surau (Minangkabau), dayah atau rangkang (Aceh), pesantren (Jawa), dan lain-lain daripada membicarakan madrasah.
Berkembangnya madrasah di Indonesia di awal abad ke-20 M ini, memang merupakan wujud dari upaya pembaruan pendidikan Islam yang dilakukan para cendekiawan muslim di Indonesia, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam asli (tradisional) tersebut dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. A. H. Johns mencatat bahwa madrasah merupakan salah satu bukti penting dari kehadiran Islam di dunia Melayu-Nusantara. Madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut dari pesantren dan secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan penting dalam perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
3. Karakteristik Madrasah di Indonesia
Sebagaimana telah dikemukakan, secara harfiah madrasah bisa diartikan dengan sekolah, dan secara teknis keduanya memiliki kesamaan, yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar secara formal. Namun demikian Karel Steenbrink membedakan madrasah dengan sekolah karena keduanya memiliki karakteristik atau ciri khas yang berbeda. Madrasah memiliki kurikulum, metode, dan cara mengajar sendiri yang berbeda dengan sekolah. Meskipun mengajarkan ilmu pengetahuan umum sebagaimana yang diajarkan di sekolah, madrasah memiliki karakter tersendiri, yaitu sangat menonjolkan religiusitas masyarakatnya. Sedangkan sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan Barat.
Perbedaan karakter antara madrasah dengan sekolah itu dipengaruhi oleh perbedaan tujuan antara keduanya secara khusus. Tujuan dari pendirian madrasah ketika itu untuk pertama kalinya diadopsi di Indonesia ialah untuk mentransmisikan nilai-nilai Islam, selain untuk memenuhi kebutuhan modernisasi pendidikan, sebagai jawaban atau respon dalam menghadapi kolonialisme dan Kristen. Sedangkan sekolah untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh pemerintah Belanda pada sekitar dasawarsa 1870-an bertujuan untuk melestarikan penjajahan. Dalam lembaga pendidikan yang didirikan kolonial Belanda itu, tidak diberikan pelajaran agama sama sekali.
Dari keterangan di atas menarik dicatat bahwa salah satu karakteristik madrasah yang cukup penting di Indonesia pada awal pertumbuhannya ialah bahwa di dalamnya tidak ada konflik atau upaya mempertentangkan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. Madrasah di Indonesia juga memiliki karakter yang sangat merakyat, berbeda dengan madrasah pada masa klasik Islam. Sebagai lembaga pendidikan tinggi madrasah pada masa klasik Islam terlahir sebagai gejala urban atau kota. Madrasah pertama kali didirikan oleh Dinasti Samaniyah (204-395 H/819-1005 M) di Naisapur, kota yang kemudian dikenal sebagai daerah kelahiran madrasah. Hal ini berbeda dengan madrasah di Indonesia, yang pada mulanya tumbuh dan berkembang atas inisiatif tokoh masyarakat yang peduli, terutama para ulama yang membawa gagasan pembaruan pendidikan, setelah mereka kembali dari menuntut ilmu di Timur Tengah. Dana pembangunan dan pendidikannya pun berasal dari swadaya masyarakat. Karena inisiatif dan dananya dari masyarakat, maka masyarakat sendiri diuntungkan secara ekonomis, artinya mereka dapat memasukkan anak-anak mereka ke madrasah dengan biaya ringan.
Kini madrasah dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah Sistem Pendidikan Nasional dan berada di bawah pembinaan Departemen Agama. Kurun waktu cukup panjang yang dilaluinya, yakni kurang lebih satu abad, membuktikan bahwa lembaga pendidikan madrasah telah mampu bertahan dengan karakternya sendiri, yakni sebagai lembaga pendidikan untuk membina jiwa agama dan akhlak anak didik. Karakter itulah yang membedakan madrasah dengan sekolah umum.
4. Fungsi dan Peran Madrasah
Pada dasarnya, sistem pendidikan madrasah merupakan produk kreativitas muslim dan agamawan sebagai bentuk pembaruan atas lembaga pendidikan Islam yang ada sebelumnya. Tujuannya agar dapat menjawab tantangan dan tuntutan yang makin kompleks, mendesak dan tidak dapat dihindari lagi. Madrasah dituntut dalam kemampuan bersaing dari Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi era globalisasi. Oleh karena itu perlu dirumuskan visi madrasah, yakni madrasah sebagai “sekolah plus” yang berkualitas, berkarakter, dan mandiri. Madrasah plus adalah madrasah yang menyiapkan anak didik mampu dalam sains dan teknologi, namun tetap dengan identitas keislamannya.
Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT), secara garis besar madrasah memiliki peran dan tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan pendidikan selama jangka waktu tertentu.
b. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan kurikulum madrasah yang berlaku.
c. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa di madrasah.
d. Membina kerja sama dengan orang tua, masyarakat, dan dunia uasaha.
e. Semua kegiatan madrasah pelaksanaannya harus berpedoman pada peraturan yang belaku.
f. Bertanggung jawab kepada kantor Departemen Agama.
Selain itu, madrasah juga sangat berperan dalam pembentukan akhlak dan moral anak didik yang sesuai dengan ajaran Islam, dan juga menentukan masa depan anak didik menjadi lebih cerah. Madrasah juga bukan hanya sebagai pusat pendidikan, melainkan juga merupakan pusat informasi dan pusat pengembangan diri.
5. Jenis-Jenis Madrasah
Dalam prakteknya, madrasah ada yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan saja, dan ada juga yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan serta ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah umum. Madrasah yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan serta ilmu-ilmu umum, diantaranya adalah:
a. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
b. Madrasah Tsanawiyah (MTs)
c. Madrasah Aliyah (MA)
Sedangkan madrasah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan saja adalah Madrasah Diniyah (MD). Madrasah Diniyah ada tiga tingkatan, yaitu: Madrasah Diniyah Amaliyah, Madrasaha Diniyah Wustho, dan Madrasah Diniyah Ulya.
Semua jenis madrasah tersebut, baik yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan serta ilmu-ilmu umum ataupun yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan saja semuanya bernaung dan bertanggung jawab pada kantor Departemen Agama.
B. POSISI MADRASAH DALAM SISTEM PENDIDIKAN NAIONAL
Produk hukum pertama yang menyatakan kesederajatan antara madrasah dengan sekolah adalah UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN). Sejak ditetapkannya undang-undang ini, maka pendidikan madrasah telah diakui sebagai subsistem pendidikan nasional. Madrasah diredefinisikan sebagai sekolah umum berciri khas Islam. Sejak itu dualisme sistem pendidikan di tanah air selama ini praktis runtuh dengan adanya undang-undang ini. Dengan demikian penerapan Undang-Undang No. 2 tahun 1989 dikuatkan lagi dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan implementasi dari komitmen pemerintah bersama DPR untuk memberdayakan dan meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Penerapan kedua undang-undang ini harus pula dilihat sebagai upaya untuk menjadikan madrasah sebagai “center of excellence” atau pusat keunggulan; karena madrasah memiliki keunggulan komperatif, yaitu penekanan yang signifikan pada pendidikan agama dan akhlak (moralitas) di samping penekanan pada pendidikan umum berupa pemberian mata pelajaran umum.
Lahirnya Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, di samping bertujuan untuk merevisi terhadap Undang-Undang Sisdiknas tahun 1989 agar selaras dengan kebijakan pendidikan pemerintah, khususnya kebijakan otonomi daerah, pada sisi lain merupakan “pengukuhan” kembali status madrasah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Pendidikan Nasional. Bahkan dalam undang-undang ini, eksistensi kesederajatan madrasah dan sekolah semakin kuat dan pengakuan terhadap bentuk-bentuk pendidikan Islam lain, seperti pondok pesantren dan pendidikan keagamaan semakin eksplisit. Bahkan dalam undang-undang ini Departemen Agama diberi peluang baru untuk mendirikan Madrasah Aliyah Ketrampilan sebagai padanan paralel dengan Sekoolah Menengah Kejuruan yang ada pada Departemen Pendidikan nasional.
Jadi, pada intinya dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 posisi madrasah dengan sekolah umum itu sederajat atau mempunyai kedudukan yang setara, yaitu sama-sama lembaga pendidikan yang diakui pemerintah.
C. PANDANGAN MASYARAKAT KAMPUNG CIJAMBE DESA SUKARESMI CISAAT-SUKABUMI TERHADAP MADRASAH
Meskipun dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sudah dijelaskan bahwa antara sekolah umum dengan madrasah mempunyai kedudukan yang setara, yaitu sama-sama sebagai lembaga pendidikan yang diakui pemerintah, namun masyarakat hari ini banyak memandang bahwa anak-anak mereka jika dimasukkan ke madrasah itu tidak bisa melanjutkan ke sekolah-sekolah negeri atau akan sulit mendapat pekerjaan setelah keluar dari madrasah nanti.
Pertanyaan yang muncul adalah kenapa masyarakat beranggapan seperti itu? Jawaban yang tepat adalah karena masyarakat belum mengerti tentang pendidikan di madrasah itu lebih daripada pendidikan di sekolah umum. Bahkan madrasah bisa dikatakan sekolah umum plus.
Oleh karena itu, harus terlebih dahulu dijelaskan dari berbagai sudut pandang tentang madrasah atau pendidikan Islam itu. Namun, alangkah singkatnya kalau dilihat dari segi filsafat artinya denagn cara berpikir sampai ke akar atau dicari dulu akar permasalahannya.
Di Indonesia terjadi berbagai macam krisis yang berkepanjangan, seperti kemiskinan, kurangnya fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Akibat dari krisis yang berkepanjangan tersebut, menyebabkan terjadinya hal-hal yang negatif seperti terjadinya perampokan, tindakan asusila, budaya pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi semakin meningkat. Sekalipun ada pemerintah, tetapi kestabilan politik belum juga terwujud.
Dalam ajaran Islam berbagai krisis tadi merupakan kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia sendiri. Menurut Muhammad Ali Ashabuni dalam kitab Shofwatun al-Tafsir yang dikutip oleh Muhammad Iswayanto mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kerusakan yang disebabkan oleh tangan manusia adalah “oleh karena kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia”.
Kita perhatikan kehidupan di sekeliling kita, saat ini banyak sekali pemaksiatan yang terjadi, termasuk dalam penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual dan telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga. Jika kita kembalikan pada bidang pendidikan, maka akan ditemukan pembagian antara pendidikan sekuler dan pendidikan Islam (diantaranya madrasah).
Kebanyakan di kalangan masyarakat selalu beranggapan yang keliru dalam melihat madrasah. Setiap kali membicarakan madrasah, acap kali tergiring pada topik tentang sekolah Islam yang memprihatinkan, bangunan sederhana dengan fasilitas minim, kurikulum berjalan apa adanya dan kondisi guru-gurunya yang menyedihkan.
Sebagian masyarakat khususnya di Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabumi ini memandang bahwa belajar di madrasah identik dengan belajar ilmu-ilmu Islam seperti membaca Al-Quran, bahasa Arab, dan lain sejenisnya. Selain itu, madrasah diidentikkan dengan lingkungan yang kumuh dan kotor tidak seperti sekolah–sekolah umum yang jauh lebih baik. Oleh karena itu, masyarakat beranggapan bahwa jika anak-anak mereka dimasukkan ke madrasah maka tidak akan terjamin dalam segala hal dan akan susah mendapatkan pekerjaan nantinya. Madrasah juga dianggap oleh masyarakat sebagai sekolah pembuangan yang menerima siswa-siswi dari sekolah-sekolah lain yang tidak diterima.
Sikap dan pandangan miring sebagian masyarakat tersebut sebenarnya bukan tanpa sebab. Biasanya mereka melihat beberapa faktor sehingga mempunyai sikap demikian terhadap madrasah, diantaranya: Pertama, kualitas madrasah baik input maupun output (lulusannya). Kedua, proses belajar mengajarnya; kebanyakan guru yang mengajar tidak sesuai dengan keahliannya. Ketiga, tingkat kedisiplinan warga madrasah. Keempat, aspek manajemen. Sebagian besar madrasah berstatus swasta yang berada di bawah naungan yayasan, sehingga terkadang yayasan mempunyai otoritas yang lebih kuat dibandingkan para pengelola madrasah. Keadaan ini menyebabkan masyarakat memberikan penilaian kurang bagus terhadap madrasah.
D. UPAYA MEMPERBAIKI CITRA MADRASAH DALAM MASYARAKAT
Menanggapi sikap dan pandangan masyarakat terhadap eksistensi madrasah, maka dibutuhkan upaya-upaya untuk memperbaiki citra madrasah di masyarakat Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabumi dari berbagai pihak. Artinya semua komponen harus terlibat karena jika hanya salah satu komponen yang peduli terhadap madrasah, maka stigma, diskriminasi dan sejenisnya tersebut akan tetap berlanjut. Upaya tersebut bisa dilakukan oleh internal madrasah sendiri maupun melibatkan eksternal.
Langkah internal yang paling strategis bisa dilakukan adalah meningkatkan kualitas madrasah dalam segala bidang baik fisik maupun nonfisik. Kalangan internal madrasah, baik para guru, TU, maupun komite sekolah perlu melakukan analisa diri, refleksi, atau analisis SWOT sehingga akan diperoleh gambaran mengenai kebijakan maupun perubahan apa yang sekiranya perlu dilakukan agar kualitas madrasah meningkat. Selain itu, masih banyak langkah-langkah internal lain yang bisa dilakukan madrasah sebagai upaya untuk memperbaiki citra madrasah dalam masyarakat. Sedangkan langkah eksternal yang bisa dilakukan madrasah adalah mengirimkan siswanya dalam berbagai kejuaraan baik yang bersifat akademik maupun olah raga, madrasah secara kreatif berupaya menggandeng lembaga/perusahaan sebagai partner dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di madrasah. Selain itu juga, tidak kalah pentingnya dalam upaya ini adalah peran serta pemerintah selaku pengayom bagi masyarakat. Pemerintah juga bertanggung jawab dalam membentuk image madrasah dalam masyarakat. Untuk itu, keberpihakan yang positif akan mendukung terciptanya image positif di mata masyarakat. Dengan demikian, adanya upaya-upaya ini setidaknya akan menepis stigma dan pandangan yang negatif dari masyarakat terhadap madrasah.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Madrasah merupakan suatu tempat atau lembaga pendidikan yang di mana anak-anak didiknya memperoleh pembelajaran hal ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (agama Islam). Madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut dari pesantren dan secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam perkembangan peningkatan mutu di Indonesia. Madrasah memiliki karakter khusus yang berbeda dengan sekolah umum, yaitu lebih menonjolkan religiusitas masyarakatnya. Madrasah ada yang mengajarkan ilmu-ilmu agama juga ilmu-ilmu umum, seperti MI, MTs, MA dan ada pula yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, seperti MD (Madrasah Diniyah).
Posisi madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional sebenarnya adalah sederajat dengan sekolah-sekolah umum atau mempunyai kedudukan yang setara, yaitu sama-sama sebagai lembaga pendidikan yang diakui pemerintah. Namun, meskipun dalam UU Sisdiknas telah disebutkan demikian, tetapi masyarakat hari ini khususnya di Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabumi masih memandang madrasah sebagai sekolah yang kurang bagus sehingga mereka lebih memilih memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah umum yang lebih dinilai bagus.
Oleh karena itu, menanggapi hal tersebut diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki citra madrasah di masyarakat dari seluruh pihak. Diantaranya melalui langkah-langkah internal, seperti meningkatkan kualitas madrasah dalam segala bidang baik fisik maupun nonfisik yang dilakukan oleh para guru, TU, maupun komite sekolah. Langkah-langkah eksternal, seperti mengirimkan siswanya dalam berbagai kejuaraan baik bersifat akademik maupun olah raga. Selain itu, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan selaku pengayom madrasah untuk menciptakan image madrasah yang positif dalam masyarakat.
B. SARAN
Menurut saya, banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat sendiri khususnya masyarakat di Kampung Cijambe Desa Sukaresmi Cisaat-Sukabum selain upaya-upaya yang telah disebutkan dalam pembahasan makalah ini. Agar masyarakat tidak memandang madrasah sebagai sekolah yang kurang dan dinomor duakan, diantaranya:
- Mengadakan sosialisasi keagamaan dan mengenalkan lebih dalam kepada masyarakat tentang pentingnya agama.
- Aparat pemerintah harus ikut serta dalam sosialisasi kepada masyarakat dan ikut membantu dalam pengadaan fasilitas, dan lain-lain.
- Membuat terobosan-terobosan baru yang lebih bisa menggugah masyarakat tentang pentingnya pendidikan Islam apalagi di madrasah.
Dengan upaya tersebut, mudah-mudahan bisa merubah cara pandang masyarakat terhadap madrasah agar menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. 2004. Sejarah Madrasah, Pertumbuhan, Dinamika, dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta.
D. Marimba, Ahmad. 1962. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
Mansur, dkk. 2005. Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Depag RI.
Sisdiyanto, S. M. 2004. Perkembangan Madrasah dalam Editorial. Jakarta: Depag RI.
Yusanto, Ismail, Muhammad, dkk. 2004. Menggagas Pendidikan Islami. Bodor: Al-Azhar Press.
http://darunnajah.wordpress.com
http://isnoe82.blogspot.com
http://mukti1.multiply.com/review/item/1
Diposting oleh Eneng SY di 23.27 0 komentar
Selasa, 15 Desember 2009
BERSYUKUR
BERSYUKUR
Sudah menjadi anggapan dan kepercayaan umum bahwa manusia yang hidup di dunia memiliki kesempatan untuk memilih dan menginginkan yang terbaik. Akan tetapi, kenyataan sebenarnya tidaklah seperti itu. Kalau seseorang menginginkan hasil yang terbaik, maka dia akan melakukan pekerjaan yang baik. Mengapa? Karena semakin besar dan baik usaha seseorang, maka semakin besar dan baik pula hasil yang akan diperolehnya. Kalau begitu, jelas bahwa usaha seseorang menentukkan hasil yang akan dicapai di masa yang akan datang.
Selanjutnya, sikap bermalas-malasan berarti menunjukkan tiadanya kesungguhan seseorang. Seseorang bisa saja diam di rumah, bermalas-malasan, menyiapkan seribu alasan untuk tidak aktif di berbagai kegiatan, menyalahkan kondisi, dan mengharapkan keajaiban datang. Tapi, jika kita memilih itu semua berarti kita tidak mensyukuri nikmat dari Tuhan. Akhirnya, sebagai akibat dari sikap itu kita tidak akan memperoleh hasil yang terbaik sesuai yang kita inginkan. Padahal, untuk mencapai hasil yang baik kita harus bisa mensyukuri nikmat dari Tuhan dengan cara memanfaatkan apa yang telah Dia berikan kepada kita sebaik-baiknya.
Orang yang bersyukur senantiasa akan memilih untuk proaktif, selalu mencari alternatif dan ide-ide baru. Jika selesai satu pekerjaan, maka akan beralih ke pekerjaan lainnya. Selalu ingin berprestasi dan memberi yang terbaik. Oleh karena itu, jika kita pandai bersyukur kepada Tuhan maka nikmat hidup kita akan selalu ditambah oleh Sang Maha Pemberi, sehingga kehidupan sosial ekonomi kita jauh lebih baik dibandingkan orang yang tidak bersyukur. Jadi, sebagai manusia selain kita bekerja dan berusaha kita wajib bersyukur. Karena dengan bersyukur kita akan memperoleh hasil yang baik sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Diposting oleh Eneng SY di 02.58 0 komentar
Rabu, 25 November 2009
Saya merasa sangat gelisah ketika kemarin siang sekitar pukul 14.30 di daerah tempat tinggal saya tiba-tiba listrik padam. Waktu itu saya punya rencana akan pergi ke warnet untuk mengirimkan tugas kuliah, tapi ternyata di daerah cisaat semua listriknya padam. Akhirnya saya menunggu sampai listrik nyala kembali. Sebenarnya dari pagi saya sudah merencanakan untuk segera menyelesaikan tugas itu, namun saya belum sempat pergi ke warnet karena ada jadwal mengajar di sekolah. Jadi saya baru bisa pergi ke warnet siang kemarin sepulang dari sekolah.
Saya kira listrik padam tidak akan lama, tapi ternyata sampai magrib pun belum juga nyala. Saya sangat cemas dan takut kalau listrik padamnya sampai malam sehingga saya tidak bisa menyelesaikan tugas itu apalagi tidak ada warnet yang dekat dengan rumah saya. Meskipun demikian, dalam hati saya tetap bertekad untuk berusaha menyelesaikan dan mengirimkan tugas itu malam tadi. Dengan rasa cemas dan gelisah saya memikirkan bagaimana jalan keluarnya, lalu saya minta izin kepada orang tua untuk pergi ke warnet yang ada di Sukabumi demi menyelesaikan tugas itu. Tetapi mereka tidak mengizinkan saya untuk keluar malam karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 19.30, lalu saya berfikir untuk sms dosen mata kuliah tersebut. Dengan rasa sangat malu dan takut kurang sopan, akhirnya saya pun sms beliau dan memberitahukan keadaan saya saat itu. Namun saya masih tidak tenang kalau belum menyelesaikan tugas.
Malam tadi saya sangat berharap agar listrik cepat nyala. Setelah itu tidak lama kemudian, sekitar pukul 20.15 akhirnya listrik nyala kembali. Saya sangat senang dan bersiap-siap untuk pergi ke warnet bersama adik saya, dan orang tua saya pun telah mengizinkan.
Walaupun hari sudah malam dan jalanan sudah agak sepi karena waktu itu dari sore hujan tidak henti-hentinya, tetapi saya tidak memikirkan rasa takut karena niat dan tujuan saya hanya untuk memyelesaikan tugas itu. Ternyata warnet yang saya tuju itu tutup padahal saya sudah cukup lelah berjalan dari rumah. Saya sudah merasa pesimis mungkin malam tadi saya tidak bisa menyelesaikan tugas itu. Tetapi saya masih tetap ingin berusaha dan mencari warnet lain sekitar tempat itu, lalu saya menemukan warnet yang buka dan lumayan cukup jauh dari rumah saya. Untungnya saya diantar oleh adik, seandainya tidak diantar saya tidak berani keluar sendiri apalagi malam-malam. Saya berada di warnet sampai pukul 21.30, kemudian saya pulang dan jalanan di sekitar rumah saya pun sudah sepi. Sungguh perjuangan yang mengesankan…
Diposting oleh Eneng SY di 22.03 0 komentar
Tugas hari ke-2
Kemarin sepulang mengajar dari sekolah saya langsung pergi ke warnet untuk mengerjakan tugas mata kuliah dari Pak Mul yang sudah saya konsep waktu malam Selasa. Padahal kemarin saya ada jadwal kuliah pukul 14.30, tetapi saya ingin menyempatkan waktu untuk menyelesaikan tugas itu terlebih dahulu. Saya berada di warnet dari pukul 13.00-14.00, dan akhirnya tugas pun selesai dan langsung saya kirim ke email Pak Mul dalam bentuk word. Saya merasa agak tenang karena telah menyelesaikan tugas, tetapi saya masih ada perasaan ragu dan takut tugas itu salah karena petunjuknya belum saya pahami dengan baik, yaitu bagian yang “ Tips yang Pertama dan Tips yang Pertama Lanjutan”. Apakah kedua tips itu digabungkan (menulisnya sekaligus selama 10-30 menit) atau dipisahkan. Saya bingung ketika membaca” Buat dua tugas”, apakah itu maksudnya kita sekali menulis dan dikirim atau dua kali menulis dengan tema yang berbeda dan dua kali dikirim. Tetapi, meskipun demikian saya tetap merasa bersyukur karena saya telah berusaha untuk segera menyelesaikan tugas hari ke-1 itu.
Setelah selesai dari warnet, kemudian saya berangkat ke kampus dan saya menanyakan tugas itu kepada teman-teman saya. Ternyata kebanyakan mereka belum mengerjakan tugas itu karena mereka belum paham dengan baik mengenai petunjuk tugas itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 dan saya pun masuk ke kelas untuk memulai mata kuliah Filsafat Umum. Ketika dosen sedang menjelaskan, tiba-tiba tubuh saya gemetar kedinginan, kepala pusing, mual, dan pandangan menjadi kabur. Saya tetap mencoba untuk kuat, tetapi keadaan saya semakin tidak kuat lagi karena memang dari pagi keadaan saya sudah agak kurang fit dan saya tetap memaksakan diri untuk beraktivitas.
Kemarin saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam keadaan seperti itu. Kemudian teman saya menawarkan untuk mengantar saya pulang, tetapi tubuh saya sangat lemas dan belum kuat untuk berjalan. Sampai mata kuliah Filsafat Umum telah selesai dan waktunya istirahat, saya masih tetap di kelas. Akhirnya teman saya mengabari keluarga saya bahwa saya sakit dan tidak bisa pulang sendiri karena khawatir ada apa-apa di jalan. Tidak lama kemudian saudara saya datang untuk menjemput saya, dan saya pulang.
Sesampainya di rumah saya di suruh makan oleh orang tua saya lalu minum obat, dan setelah isya saya tidur. Alhamdulillah…ketika waktu subuh saya bangun, keadaan saya sudah agak mendingan dan saya bisa melakukan aktivitas kembali seperti biasanya.
Diposting oleh Eneng SY di 06.17 0 komentar
Senin, 23 November 2009
ENENG SANTI_Tugas hari ke-1
HARI YANG CERAH, TUBUHKU LELAH
Hari Senin kemarin cuaca sangat cerah. Cuaca hari itu berbeda dengan hari biasanya yang selalu mendung dan turun hujan, bahkan terkadang dari pagi hingga malam hujan tiada henti-hentinya. Jalanan di sepanjang rumahku pun selalu tergenangi air akibat saluran airnya yang tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan para warga.
Karena cuaca yang setiap hari selalu hujan, maka terkadang aktivitasku pun terganggu. Setiap pagi sebelum saya berangkat ke sekolah, biasanya saya selalu beres-beres di rumah seperti menyapu, mencuci, dan sebagainya. Namun, karena cuacanya yang selalu hujan, jadi selama beberapa hari saya tidak mencuci baju. Ketika hari Senin kemarin cuacanya cukup cerah dari pagi hingga malam tidak turun hujan, maka pagi-pagi sebangun dari tidur, salat, mengaji, kemudian saya langsung beres-beres di rumah dan mencuci baju sangat banyak karena baju yang dicuci bukan hanya baju milik saya tetapi juga baju orang tua dan dua adik saya.
Pagi itu saya disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang cukup menumpuk karena tidak ada yang membantu. Ibukku sibuk mengurusi adik yang masih kecil, ayahku sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja, dan adikku yang satu lagi sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sedangkan saya pada hari Senin itu tidak ada jadwal ke sekolah, jadi seharian itu saya fokukan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah sampai beres terutama mencuci baju yang sudah menumpuk. Setelah saya selesai beres-beres di rumah, kemudian saya memasak dan tidak terasa waktu pun telah menunjukkan pukul 10.00. Masya Allah…sungguh lelahnya saya.
Saya langsung mandi dan beristirahat sebentar sambil menunggu waktu dzuhur. Setelah itu saya melanjutkan kembali pekerjaan yang belum selesai yaitu menyetrika baju yang sudah kering dijemur. Akhirnya, pekerjaan saya dari pagi hingga sore pun telah selesai dan saya bisa beristirahat kembali lebih lama. Sungguh hari yang sangat melelahkan…
Diposting oleh Eneng SY di 22.43 0 komentar
Jumat, 20 November 2009
UTS TPKI Semester 3a
Analisis Makalah
Berdasarkan hasil analisis saya terhadap makalah yang berjudul "GERAKAN PEMURNIAN WAHHABI: MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB", maka saya dapat menemukan beberapa aspek yang masih harus diperbaiki, baik itu dari segi isi, tulisan, maupun penuturan kalimat yang ditampilkannya.
Jika ditinjau dari sisi isi, pembahasan dalam makalah tersebut sudah cukup luas dan lengkap karena membahas mengenai biografi MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB sampai pada dampak dari gerakan pemurnian Wahhabi itu. Namun, penyusunan makalah tersebut belum memenuhi syarat ataupun kaidah penyusunan karangan ilmiah yang baik dan benar. Karena dalam makalah itu harus terdapat judul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar pustaka. Sedangkan dalam makalah tersebut hanya terdapat pendahuluan dan penyusunannya tidak sistematis.
Jika dilihat dari sisi tulisan, maka secara keseluruhan dari paragraf awal sampai akhir makalah tersebut terdapat beberapa kesalahan dalam kata ataupun kalimatnya. Secara garis besar di sini saya cantumkan beberapa hal yang menurut saya masih perlu diperbaiki, di antaranya :
1. Penulisan singkatan s.a.w, seharusnya SAW.
2. Terdapat kata atau kalimat yang tidak baku, contoh : dipraktekkan seharusnya dipraktikkan, jawatan seharusnya jabatan, mesti seharusnya harus, hairan seharusnya heran, lantaran seharusnya sebab, mahupun seharusnya maupun, amatlah seharusnya sangat, masa seharusnya waktu, berjaya seharusnya berhasil, dan lain-lain.
3. Terdapat beberapa kata asing yang tidak ditulis miring, contoh : opresif, reformisme, taqarrub, khurafat, tahayul, bid'ah, dan lain-lain.
4. Terdapat beberapa kalimat yang tidak efektif, seperti: ..."Dalam pada itu", seharusnya "Oleh karena itu", dan lain-lain.
5. Kesalahan penulisan huruf kapital, seperti : melancarkan Penyebaran prinsip-prinsip reformasi, abad Sembilan belas, dan lain-lain.
6. Penempatan tanda baca yang salah sehingga menimbulkan makna yang berbeda, seperti pada kalimat no.1 pada point D.
7. Kata nabi yang tidak diiringi nama harus huruf kecil.
8. Penulisan kata abad kesembilan belas atau yang lainnya sebaiknya dengan menggunakan angka Arab atau romawi, seperti : abad ke-19.
Selain hal tersebut masih terdapat juga kesalahan lain dari sisi tulisan yang tidak bisa dibahas satu per satu.
Jika ditinjau dari sisi penuturan yang ditampilkannya, maka ada beberapa kalimat dalam makalah tersebut yang masih rancu sehingga membuat pembaca susah memahami isi makalah tersebut.
Diposting oleh Eneng SY di 04.36 0 komentar
